DIARE KONSEP MEDIS Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering (intoleransi laktosa). a. Tanda : b. Gejala : Sebagai akibat diare baik akut/kronis akan terjadi: Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output lebih banyak daripada input) merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare. Asidosis metabolik terjadi karena: Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda keton tertimbun di dalam tubuh. Hipoglikemia terjadi pada 2-3% pada anak-anak yang menderita diare. Pada orang dengan gizi cukup (baik, hipoglikemia jarang terjadi, le bih sering terjadi pada anak sebelumnya pernah menderita lalep). Ketika orang menderita diare, sering terjadi gangguan gizi dengan akibat terjadinya penurunan BB dalam waktu singkat. Hal ini disebabkan karena makanan yang sering tidak dicerna dan diabsorbsi baik karena hiperperistaltik. Meningkatnya motilitas dan cepatnya pengosongan pada intestinal merupakan akibat dari gangguan absorbsi dan ekskresi cairan-cairan dan elektrolit yang berlebihan. Mikroorganisme yang masuk akan merusak sel mukosa intestinal sehingga menurunkan area permukaan intestinal, perubahan kapasitas intestinal dan terjadi gangguan absorbsi cairan dan elektrolit. Sebagai akibat diare dengan/tanpa disertai muntah dapat terjadi gangguan sirkulasi darah berupa kegiatan (syok) hipovolemik. Akibat perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat dan mengakibatkan perdarahan pada otak, kesadaran menurun dan bila tidak segera ditolong penderita dapat meninggal. Manifestasi klinis menurut Ngastiyah, 2005 adalah: Mula-mula pasien cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair mungkin disertai lendir atau lendir dan darah. Warna tinja makin lama berubah kehijau-hijauan karena bercampur dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai ak ibat makin banyak asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak diabsorbsi oleh usus selama diare. Gejala muntah dapat timbul sebelum dan sesudah diare, dan dapat disebabkan karena lambung turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Akan terjadi dehidrasi mulai nampak, yaitu berat badan turun, turgor berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung (pada bayi), selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering. Manifestasi klinis yang terjadi pada klien diare berdasarkan dehidrasi: Diare dibagi menjadi 2: Adalah diare yang terjadi secara mendadak dan berlangsung kurang dari 7 hari pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat. Adalah diare yang berlangsung paling sedikit 2 minggu: Klasifikasi diare kronik berdasarkan sifat tinja, berair, berlemak, ber darah pada bayi dan anak me nurut Arasu dkk, 1979 antara lain: b) Malabsorbsi gluksoa galaktosa Bentuk tinja dan jumlah tinja dalam sehari kurang lebih 250 mg. Na dalam tinja ( normal : 56-105 mEq/l ) Chloride dalam tinja ( normal : 55-95 mEq/l ), kalium dalam tinja ( normal : 25-26 mEq/l ), HCO3, dalam tinja ( normal : 14-31 mEq/l ). Darah lengkap meliputi elektroda serum, kreatinin, menunjukan adanya dehidrasi. Nilai normal hemoglobin adalah 13-16 g/dl, hematokrit 40-48 vol%. Hemoglobin dan hematokrit biasanya mengalami penurunan diare akut. Gunanya untuk mengetahui kuman secara kuantitatif terutama pada diare kronik. Penyebab yang ditemukan tidak ada yang berupa mikroba tunggal baik itu Shigela, Crypto Sporodium dan E. Colienteroagregatif. Hasil pemeriksaan duodeual intubation berupa +++ ( positif 3 ) menunjukan adanya 3 kuman bakteri yang menjadi penyebab diare. Penyakit diare dapat ditularkan melalui: Tidak ada perubahan konsistensi elektrolit darah, tonus dan osmolality cairan ekstra sel yang sisa sama dengan vontanela normal, frekuensi jantung normal kadar natrium dalam serumant 130-150 mEq/l Tonus dan tugor mau buruk selaput lender tidak kering( lembab). Pemeriksaan laboratorium kadar ion natrium dalam serum, 131 mEq/l. Caiaran yang keluar lebih banyak mengandung air dari pada garam, terjadi karena cairan peroral sangat kurang excessive evaporative losses misalnya, panas tinggi, hiperventilasi, misalnya bronkopenemonia, pemeriksaan laboratorium kadar ion natrium dalam serum > 150 mEq/l Berat badan< 5 %, haus meningkat, membran mukosa sedikit kering, tekanan jadi normal, hanya ada ekstremitas perfusi, mata sedikit cekung, fontanela normal, tugor masih baik, status mental normal. Berat badan turun 5-10%, keadaan umum gelisah, haus meningkat, tugor turun, frekuensi janting meningkat, membran mukosa kering, merah, kadang sianosis, mata cekung, tekanan nadi mengecil, dan frekuesi keluar urin mengurang, kembalinya kapiler lambat,setatus mental normal sampai lesu. Berat badan turun 5-10%, keadaan umum gelisah sampai apatis,bibir kering, merah, kadang sianosis, tugor kulit jelek, mata dan fontanela cekung, tekanan nadi mengecil, dan frekuesi keluar urin tidak ada, nafas frekuesi tachikardi, ekstremitas dingin, haus meningkat Sering terjadi pada bayi baru lahir sampai usia 1 tahun ( khususnya bayi berumur <6 bulan ). Biasanya terjadi pada diare yang disertai mutah dengan intake cairan atau makanan kurang / cairan yang diminum terlalu banyak mengandung Na, pada bayi juga dapat terjadi jika setelah diare sembuh diberi oralit dalam jumlah berlebihan. Terjadi pada penderita diare yang minum sedikit cairan / tidak mengandung Na. Penderita gizi buruk mempunyai kecenderungan mengalami hiponatremia. Demam sering terjdi pada infeksi Shigella disertai dan rota virus. Pada demam umumnya akan timbul jika penyebab diare mengadakan infasi kedalam epitel usus. Demam juga dapat juga terjadi karena dehidrasi. Demam yang terjadi akibat dehidrasi umumnya tidak tinggidan akan turun setelah mengalami hidrasi yang cukup. Demam yang tinggi mungkin diikuti kejang demam. Ditandai dengan bertambahnya asam/hilangnya basa cairan ekstra seluler. Sebagai kompensasi terjadi asidosis respirasi , yang diatandai dengan pernafasan cepat dan dalam. Penggantian K sealama dehidrasi yang tidak cukup, maka akan terjadi kekurangan K yang ditandai dengan kelemahan pada tungkai, ileus, kerusakan ginjal, dan aritmia jantung Komplikasi yang sering dan fatal terutama pada anak kecil sebagai akibat penggunaan obat anti motilitas. Pada penderita intoleransi laktosa, pemberian susu formula pada penderita diare dapat menimbulkan volume tinja bertambah, BB tidak bertambah, tanda dan gejala dehidarasi memburuk dan tinja terdapat reduksi dalam jumlah cukup banyak. Dapat disebabkan oleh dehidrasi, iritasi usus karena infeksi ileus yang menyebabkan gangguan fungsi usus yang ber hubungan dengan infeksi sistemik. Mutah dapat disebabkan karena pemberian cairan oral terlalu cepat. Dasar pengobatan diare adalah: Per oral sebanyak anak mau minum (ad libitum) atau 1 gelas tiap defekasi Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun berat badan 3 – 10 kg. 12 ml/kgBB/jam = 3 tetes /kgBB/menit (set infus berukuran 1 ml = 15 tetes) atau 13 tetes/kgBB/menit (1 set infus 1 ml = 20 tetes). 12 ml/kgBB/jam = 3 tetes/kgBB/menit (1 set infus = 15 tetes) atau 4 tetes/kgBB/menit (set infus 1 ml = 20 tetes). 125 ml/kgBB per oral atau intragastrik. Bila anak tidak mau minum, teruskan DG aa intravena 2 tetes/kgBB/menit (set infus 1 ml = 15 tetes) atau 3 tetes/kgBB/menit (set infus 1 ml = 20 tetes). Untuk anak lebih dari 2 – 5 tahun dengan berat badan 10-15 kg. 30 ml/kgBB/jam atau 8 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 10 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes). 10 ml/kgBB/jam atau 3 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 4 tetes/ kgBB/menit (1 ml = 20 tetes). 125 ml/kgBB oralit per oral atau intragastrik. Bila anak tidak mau minum dapat diteruskan dengan DG aa intravena 2 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 3 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes). Untuk anak lebih dari 5 – 10 tahun dengan BB 15-25 kg 20 ml/kgBB/jam atau 5 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 7 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes). 10 ml/kgBB/jam atau 2 ½ tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 3 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes). 105 ml/kg BB oralit peroral atau bila anak tidak mau minum dapat diberikan DG aa intravena 1 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 1 ½ tetes/kgBB/menit (set 1 ml = 20 tetes) Untuk bayi baru lahir (neonatus) dengan berat badan 2-3 g 125 ml + 100 ml = 250 ml/kgBB/24 jam. Cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5% + 1 bagian NaHCO3 1 ½%) 4 jam pertama: 25 ml/kgBB/jam atau 6 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) 8 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes). 20 jam berikutnya: 150 ml/kgBB/20 jam atau 2 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 2 ½ tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes). Untuk bayi berat badan lahir rendah, dengan berat badan kurang dari 2 kg . 25 ml/kgBB/24 jam Cairan 4:1 (4 bagian glukosa 10% + 1 bagian NaHCO3 1 ½%) Saa dengan pada bayi baru lahir. Cairan untuk pasien MEP sedang dan berat dengan diare dehidrasi berat. Misalnya untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun dengan berat badan 3-10 kg. 4 jam pertama: 60 ml/kgBB/jam atau 15 ml/kgBB/jam atau = 4 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 menit) atau 5 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 jam berikutnya: 150 ml/kgBB/20 jam atau 2 tetes/kgBB/menit (1 tetes). 20 jam berikutnya: 190 ml/kgBB/20 jam atau 10 ml/kgBB/jam atau 2 ½ tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 3 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes). Pemberian cairan pasien MEP tipe marasmik. Kwaskhiorkor dengan diare dehidrasi berat dan pasien MEP 3-10 kg, umur 1 bulan – 2 tahun jumlah cairan 200 ml/kg BB/24 jam. Untuk anak (1 tahun dan > 1 tahun dengan BAB<7 kg, jenis makanannya: Cara memberikan: Hari Ket 1. 2-4 5 Cairan per oral Cairan parenteral Selama 4 jam pertama tetesan lebih cepat, jumlah cairan yang masuk tubuh dapat dihitung dengan cara: Biasanya terjadi dehidrasi asidosis, dan komplikasi terjadi sebagai akibat tindakan pengobatan sebagai berikut: - Karena sering buang air sehingga melelahkan dapat dirawat di atas eltor bed. - Bagi pasien dilakukan biopsi usus perlu diberi penjelasan dan motivasi, karena posisinya miring 2 – 3 jam. - Jangan lupa memberikan oralit, dan ini hanya untuk pencegahan. Masukan gula dan garam ke dalam gelasd yang telah berisi air matang hangat, aduk hingga rata kemudian minumkan kkepada penderita ASUHAN KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN Anamnesa yang perlu diketahui pada pasien diare sebagai berikut : pada pasien geriatric biasanya akibat tumor , divertikulitis, laksan berlebih. Pada pasien muda dan anak- anak biasanya infeksi, intoleransi lactase, sindrom kolon iritatif. biasanya frekuensi diare oleh infeksi bakteri biasanya dari hari ke hari makin sering, berbeda dengan diare akibat minum laksan atau akibat salah makan diare akut biasanya berlangsung cepat, diare kronik berlansung lama nyeri abdomen disertai diare terjadi pada infeksi bakterial pada usus, sedangkan nyeri sesudah diare yang tidak pernah puas pada infeksi maupun sindrom mauoun usus iritabel kesadaran : compasmentis, pasda dehidrasi berat dapat terjadiapatis, somnolen, kadaang sopokomateus. Keadaan umum : sedamg atau lemah Vital sign : Pemerisaan Fisik a. Kepala dan Muka Kepala : inspeksi ada tidaknya ubun – ubun yang besar dan agak cekung Rambut : terjadi rontok atau merah karena malnutrisi Mata : mata pada umumnya agak cekung Mulut : mukosa kering, bibir pecah – pecah , lidah kering, bibir sianosis. Pipi : pada tulang pipi biasanya menonjol Wajah : tampak lebih pucat b. Leher Umumnya tidak terjadi pembesaran kelenjar tiroid c. Jantung Menimbulkan aritmia jantung d. Abdomen Inspeksi : inspeksi umumnya simetris, supel tidak ada lesi Perkusi : tympani ( kembung) Palpasi : umumnya ada nyeri tekan bagian perut bawah yaitu bagian usus dan dapat terjadi kejang perut . Auskultasi : bising usus >30x / menit e. Anus Anus terjadi iritasi, kemerahan padsa daerah sekitarnya f. Kulit Kekenyalan kulit sedikit kurang dan elastisitas kembali setelah 1 – 2 detik e. Pemeriksaan Penunjang 1. Data Laboratorium 1. makroskopis : Bentuk cair, kurang lebih jumlahnya 250 gram dalam sehari 2. mikroskopis : Na normal dalam tinja 56 – 105 mEq/l, chloride normal dalam tinja 55 – 95 mEq/l, kalium normalnya 25 – 26 mEq/l, HCO3 normalnya 14 – 31 meq/l. 1. PH kurang dari 6 2. gula tinja + : 0.5 % ++ : 0.75 % +++ : 1 % ++++ : 2 % normalnya tidak ada gula dalam tinja Pemeriksaan BE CO2 PH Nilai normal 48 mEq/l 27 mEq/l 7,4 Alkalosis metabolic + Alkalosis respiratorik - Asidosis metabolic - Asidosis respiratorik + d. Pemeriksaan kadar urin dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal 1. urin : normalnya 20 – 40 mg / dl, jika terjadi peningkatan maka menunjukan terjadi dehidrasi 2. kreatinin : normalnya 0.5 – 1.5 mg/dl e. Pemeriksaan Darah Darah lengkap meliputi elektrolit serum, kreatinin, BUN menunjukan adanya dehidrasi, hemoglobin, hematokrit, dan BUN biasanya mengalami penurunan pada diare akut f. Duodenal Intubation untuk mengetahui kuiman penyebab secar kuantitatif terutama pada diare kronik. 2. Rekto kolonoskopi kolonoskopi tidak diindikasikan pada diare akuttapiu pada waktu lebih dari 10 hari tidak berhenti / cenderung menjadi kronik maka rekto sigmoidoskopi sangat perlu . Bila diare berdarah mutlak perlu dilakukan rektokolomoskopi. 3. Foto sinar X ( Rontgen ) foto sinar X tidak perlu dilakukan pada diare akut. Pada kasus diare akur peranan Rontgen sudah digantikan oleh endoskopi. Lain halnya pada diare kronik dimana pemeriksaan sinar X memegang peranan yang sama dengan endoskopi. B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan dan elektrolit pada tubuh. 2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorbsi. 3. Nyeri akut berhubungan dengan hiperperistaltik usus. 4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan sering defekasi. 5. Hipertermi berhubungan dengan dehidrasi. 6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi C. INTERVENSI 1. Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan dan elektrolit pada tubuh. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan kebutuhan cairan dan elektrolit terpenuhi. NOC : Fluid balance KH : 1. Mempertahankan urine output sesuai dengan usia Umur O (ml) 1 – thn 3 – 5 thn 5 – 8 thn 8 – 14 thn 14 – 18 thn 500 – 600 600 – 700 700 – 1000 800 – 1400 1500 2. Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal 1 thn 95/65 mmHg 6 thn 05/65 mmHg 10 – 13 thn 110/65 mmHg 14 – 17 thn 120/75 mmHg Umur Bangun tidur 1 – 2 thn 80 – 150 70 – 120 2 thn – 10 thn 70 – 110 60 – 90 10 thn – 18 thn 55 – 90 50 – 90 1 thn 37,7oC 2 – 5 thn 37,2oC 6 – 18 thn 37oC 3. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik. Membran mukosa lembato, tidak ada rasa haus yang berlebihan. Keterangan skala: 1. Tidak pernah menunjukkan 2. Jarang menunjukkan 3. Kadang menunjukkan 4. Sering menunjukkan 5. Selalu menunjukkan NIC : Fluid manajement 2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorbsi. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan nutrisi pasien terpenuhi NOC : Nutritional status food and fluid intake KH : 1. Adanya peningkatan BB sesuai tujuan (BB dan TB ideal) Keterangan skala: 1. Tidak pernah menunjukkan 2. Jarang menunjukkan 3. Kadang menunjukkan 4. Sering menunjukkan 5. Selalu menunjukkan NIC : Nutrition management Intervensi : - Kolaborasi dengan gahli gizi untuk menentukan nurisi yang dibutuhkan pasien. NIC : Nutrition monitoring Intervensi : - BB pasien dalam batas normal 3. Nyeri akut berhubungan dengan hiperperistaltik usus. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan rasa nyeri berkurang NOC : Control nyeri KH : - Mengenal faktor penyebab (makanan dan frekuensi BAB) Keterangan skala: 1. Tidak pernah menunjukkan 2. Jarang menunjukkan 3. Kadang menunjukkan 4. Sering menunjukkan 5. Selalu menunjukkan NIC : Pain management Intervensi : 1. Kaji secara komprehensif tentang nyeri meliputi lokasi, karakteristik dan durasi frekuensi, kualitas/ beratnya nyeri. 4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan sering defekasi. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan integritas kulit kembali normal. NOC : Tissue integrty: skind and mucous membranes. KH : - Integritas kulit yang baik, bisa dipertahankan/kulit elastis, tidak. Keterangan : - Tidak pernah menunjukkan NIC : Pressure management Intervensi : - Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang normal 5. Dx : Hipertermi berhubungan dengan dehidrasi Tujuan : Setelah dilakukan tindak akun keperawatan selama proses keperawatan diharapkan suhu tubuh dalam rentang normal (36,5o C) NOC : Thermoregulation KH : - Suhu tumbuh dalam rentang normal (36,5o C) NIC : Fever treatment Intervensi : - Monitor suhu sesering mungkin Keterangan skala: 1. Tidak pernah menunjukkan 2. Jarang menunjukkan 3. Kadang menunjukkan 4. Sering menunjukkan 5. Selalu menunjukkan 6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan/selama proses keperawatan diharapkan pengetahuan pasien betambah. NOC : Knowledge: disease proces KH : - Pasien dan keluarga mengatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis, program pengobatan. Keterangan skala: 1. Tidak pernah menunjukkan 2. Jarang menunjukkan 3. Kadang menunjukkan 4. Sering menunjukkan sss5. Selalu menunjukkan NIC : Teaching: disease process Intervensi : - Jelaskan patofisiologi, dan penyakit.
PENGERTIAN
CARA PEMBUATAN ORALIT
Pathways Diare
EVALUASI
1. Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan dan elektrolit pada tubuh.
1.Mempertahankan urine output sesuai dengan usia (skala 4)
Umur | O (ml) |
1 – thn 3 – 5 thn 5 – 8 thn 8 – 14 thn 14 – 18 thn | 500 – 600 600 – 700 700 – 1000 800 – 1400 1500 |
Bj urine normal 20 – 40 mg/dl
HT normal
Pada laki-laki : 40 – 48% Wanita : 37 – 43%
2.Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal (skala 4)
Tekanan darah
1 thn 95/65 mmHg
6 thn 105/65 mmHg
10 – 13 thn 110/65 mmHg
14 – 17 thn 120/75 mmHg
Nadi
Umur Bangun tidur
1 – 2 thn 80 – 150 70 – 120
2 thn – 10 thn 70 – 110 60 – 90
10 thn – 18 thn 55 – 90 50 – 90
Suhu tubuh
1 thn 37,7oC
2 – 5 thn 37,2oC
6 – 18 thn 37oC
3.Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik (skala 4)
Membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan.
- Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorbsi.
- Adanya peningkatan BB sesuai tujuan (BB dan TB ideal) (skala 4)
- BB ideal sesuai dengan tinggi badan (skala 4)
- Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi (skala 4)
(pasien mengerti jadwal makanan dan jenis makanan)
- Tidak ada tanda-tanda mal nutrisi (skala 4)
(tanda-tanda malnutrisi dan jenis makanan bibir pecah-pecah
kulit, rambut rontok, BB menurun dan rambut kemerahan)
- Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan (skala 4)
menelan (pasien mau makan, porsi makan habis)
- Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti (skala 4)
(BB normal)
3. Nyeri akut berhubungan dengan hiperperistaltik usus
- Mengenal faktor penyebab (makanan dan frekuensi BAB) (skala 4)
- Menggunakan metode pencegahan non analget (skala 4)
(ditraksi, relaksasi)
- Mengenali gejala-gejala nyeri (mules, cengeng, gelisah, (skala 4)
eksprewi wajah merintih memegangi perut)
4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan sering defekasi.
- Integritas kulit yang baik, bisa dipertahankan/kulit elastis. (skala 4)
- Tidak ada luka (lesi pada kulit pada kemerahan, (skala 4)
kulit tidak kering).
- Mampu melindungi kulit dan mempertahankan (skala 4)
kelembahan kulit dan perawat alami (pemberian
baby oil/lotion, tidak diberikan bedak)
5. Hipertermi berhubungan dengan dehidrasi
- Suhu tumbuh dalam rentang normal (36,5o C) (skala 4)
- Nadi dan RR dalam rentan normal (skala 4)
(nadi: 80-100 x/mnt, R: 15 – 20 x/mnt).
- Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing. (skala 4)
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi
- Pasien dan keluarga mengatakan pemahaman (skala 4)
tentang penyakit, kondisi, prognosis, program pengobatan.
- Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur (skala 4)
yang dijelaskan secara benar.
- Pasien dan keluarga ampu menjelaskan kembali apa (skala 4)
yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya.
Ket skala : 1. Tidak pernah dilakukan
- Jarang dilakukan
- Kadang dilakukan
- Sering dilakukan
- Selalu dilakukan
DAFTAR PUSTAKA
Behrman, dkk. 1999. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Jakarta: EGC.
Dona. 1996. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Edisi 4. Jakarta: EGC.
Hinchliff, Sue. 1999. Kamus Keperawatan Edisi 17. Jakarta: EGC.
Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid I. Jakarta: Media Aesculapius.
Ngastiyah. 2002. Perawatan Anak Sakit. Edisi 2. Jakarta: EGC.
Ramali, Ahmad. 2003. Kamus Kedokteran Edisi 24. Jakarta: Djambatan.
Suharyono, dkk. 1998. Gastroenterologi Anak Praktis. Jakarta: Gaya Baru.
Suntosa, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. 2005-2006. Definisi dan Klasifikasi. Yogyakarta: Prima Medika.
Suriadi, dkk. 2001. Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta: PT. Fajar Interpratama


07.11
Keigo Sikawa
Posted in 